Minggu, 07 Juli 2019

Pemaknaan Berproses (What the Goal part 1)

  • Juli 07, 2019
  • Published by Editor


Ketika kamu hendak melakukan suatu aktivitas, rutinitas sehari-hari misalnya, pernahkan berpikir apa tujuannya. Pernahkah kamu berpikir apa tujuan dari makan, mandi, berangkat sekolah, tidur dan rutinitas-rutinitas lainnya. Atau pernahkah kamj memikirkan tujuan dari hal-hal kecil yang kamu lakukan seperti menyapa teman, mengucapkan salam, cuci tangan sebelum makan dan sebagainya. Kemudian yang paling utama, pernahkah terlintas dalam pikiran apa tujuan hidup kamu?

Jika kamu termasuk orang yang pernah memikirkan tujuan dari aktivitas tersebut, sangat berkemungkian besar kamu termasuk orang yang visioner, teliti, perfeksionis. Aktivitas yang sudah lekat menjadi rutinitas, terutama rutinitas mutlak sejak lahir (seperti: makan, mandi ,tidur, dsb) merupakan kebutuhan yang tanpa dipikirkan apa tujuannya pun, wajib dilakukan dan jika diabaikan beresiko merusak sistem kinerja tubuh. Sehingga jarang orang yang memikirkan tujuan fundamental dari aktivitas tersebut karena sudah menjadi kebiasaan.

Saya sendiri bukan termasuk orang yang memikirkan tujuan ketika hendak melakukan suatu aktivitas. Saya lebih suka mengacu pada proses dengan memanfaatkan waktu untuk melakukan aktivitas yang lebih bermakna. Ketika jenuh, sebisa mungkin saya menghabiskan waktu untuk mempelajari hal-hal baru karena terlihat menarik untuk dikuasai. Mengenai tujuan apa yang ingin diraih terhadap mempelajari hal baru tersebut sama sekali tidak terpikirkan oleh saya.

Faktanya, dalam hidup saya, Kecenderungan berorientasi pada proses tanpa memikirkan tujuan nyata yang ingin dicapai tersebut dipicu oleh slogan dalam organisasi yang saya ikuti di kampus. Pernah pada suatu forum diskusi kecil, ketika ada senior yang bertanya “apa tujuan kamu masuk di organisasi ini?”, rata-rata menjawab "ingin belajar dan berproses", tak terkecuali dengan jawaban yang saya utarakan. Saat itu ungkapan “berproses” menjadi kata-kata ampuh untuk menumbuhkan militansi dan loyalitas anggota  organisasi yang bergerak pada ranah ideologi tersebut. Sangking manjurnya, saya dan teman-teman saya menghabiskan tenaga dan fikiran untuk organisasi tersebut. Sebuah momen yang menakjubkan ketika dapat menghabiskan waktu senang dan sedih bersama, berjuang atas nama organisasi.

Setelah hampir menginjak dua tahun, tepatnya awal semseter empat, Akhirnya saya sampai pada titik terjenuh, dimana semboyan “berproses” yang saya gemakan bersama teman-teman tidak bisa mengobati kegalauan saya atas pemaknaan tujuan hidup saya. Ketidakproduktifan menjadi konsekuensi yang harus saya taggung akibat dari kelalaian mengatur waktu saat berproses di organisasi. Untuk mengatasi konsekuensi tersebut, saya memutuskan aktif di balik layar, mulai jarang hadir di forum organisasi. Dengan syarat saya harus siap memenuhi kebutuhkan organisasi tersebut dalam meski tidak hadir secara fisik. Saya memilih berkontribusi pada posisi uang sesuai dengan bidang keahlian saya. Sebenarnya ini bukan syarat yang mengikat, karena saya sendiri yang membuatnya dan terus berlaku sampai akhirnya menjadi pengurus yang didemisioner.

Hidup hanya tentang serangkaian pilihan, dimana setiap personal bebas meyakini jalan mana yang akan ditempuhnya untuk berjuang. Semboyan "berproses" dalam organasasi yang saya ikuti pun tidak salah, karena menurut saya pribadi semboyan itu adalah pijakan awal bagi setiap anggota untuk menemukan jati dirinya dalam berorganisasi. Jadi seandainya senior saya mengulangi pertanyaannya, "apa tujuan kamu ikut organisasi?" saya akan menjawab: "Mencari jati diri" atau "Membangun jaringan dan berkontribusi semampu saya."

Empat tahun telah berlalu sejak saya masuk di organisasi tersebut, alhasil saya bangga dan perlahan telah menemukan jati diri saya. Jika dilihat dari sisi kehadirian fisik, saya termasuk anggota yang pasif dan bisa dikatakan seeneaknya sendiri (egois), bahkan hal ini masih berlaku ketika saya menjadi pengurus. Namun kalau mau diuji dari segi kontribusi, saya cukup percaya diri untuk melakukan pembelaan.

Demikian riwayat singkat yang menghantarkan kenapa saya sebelumnya tidak pernah memikirkan tujuan nyata dari aktivitas-aktivitas yang saya lakukan. Slogan "berproses" cukup mempengaruhi langkah saya dalam menentukan arah tujuan. Bagi yang masih belum menentukan jati dirinya, slogan tersebut masih ambigu, tidak memiliki kejelasan berproses seperti apa yang diinginkan, tidak terarah dan tak ada aktivitas yang sistematis untuk mencari jati dirinya yang sebenarnya. Sehinngga slogan "berproses" yang demikian kencangnya pernah saya gemakan, bisa menghantarkan pada dua jalan yang saling bertentangan.

Pertama yaitu, jika kamu orang yang sadar tentang pentingnya waktu dan produktivitas masa muda, kamu akan tergerak untuk melakukan suatu hal yang berdampak positif di masa depanmu nanti. menemukan jati dirimu, menggunakan waktumu untuk mengasah bidang yang kamu minati dengan pandai mengatur proporsional bembagian waktu. Antara waktu berorganisasi, belajar, kuliah dan aktivitas lainnya termanage dengan prioritas yang menurutmu bisa menunjang keahliannya.

Sebaliknya dengan yang jalan kedua, jika kamu seseorang yang masih terbuai dengan enjoy-nya dunia organisasi, bersenang-senang dan kumpul dengan banyak teman meski dengan obrolan yang pembahasannya tidak jelas, tanpa disadari bahwa banyak waktu yang telah kamu sia-siakan untuk hal yang kurang bermanfaat. Akibatnya, pemahaman tentang ungkapan berproses tadi tidak berkembang dan masih terjebak pada comfort zone dunia organisasi. Dan untuk jalan yang kedua ini, mayoritas orang berdalih dengan mengatakan “semua ini demi kebersamaan”.

Tantangannya akan semakin berat jika sudah menjabat sebagai pengurus, kamu yang masih belum menentukan jati dirimu akan termanjakan dengan perlakuan anggota-anggota yang junior, yang bersikap segan kepada yang lebih tua. Ini yang dari dulu berusaha saya hindari karena saya sendiri termasuk orang yang rentan berambisi pada popularitas, sehingga ini pula yang menjadi alasan saya membatasi diri agar berkontribusi di balik layar dan jarang berinteraksi dengan anggota lainnya. Sekali lagi, ini kembali pada niat personal masing-masing.

Apa yang saya tulisakan diatas merupakan hasil dari perjalanan pengalaman saya selama kuliah di Semarang. Terlepas dari kehidupan organisasi yang saya jabarkan diatas, kembali pada topik awal, yaitu tentang tujuan. Memikirkan tujuan dari suatu hal yang kita minati sangatlah penting, apalagi jika tujuan itu semakin spesifik dan realistis. Saya rasa cukup bersambung sampai sini. Di artikel selanjutnya, saya akan berusaha mengupas lebih dalam lagi tentang pentingnya menentukan tujuan, tentunya ini masih berkaitan dengan perjalanan kehidupan saya.


0 komentar:

Posting Komentar

auvha-logo-vsg

Say hello to Danil,
our director art