Minggu, 22 Desember 2019

Menjadi Freelancer

  • Desember 22, 2019
  • Published by Editor


Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, mungkin kamu pernah ditanyai guru apa cita-citamu nanti. Umumnya cita-cita yang disebutkan ialah menjadi Dokter, polisi, tentara, guru, atlet olahraga, pilot dll. Jarang sekali atau mungkin tidak ada yang bercita-cita menjadi freelancer. Terkhusus bagi generasi yang lahir pada tahun 90an. Belasan tahun lalu cita-cita tersebut jarang yang tahu.

Terlepas dari cita-cita semasa kecil, cita-cita akan berubah seiring bertambahnya usia dan realita hidup yang dijalani. Bagi saya, menjadi freelancer atau pekerja Lepas bukanlah sebuah tujuan, apalagi cita-cita. Mungkin saja menjadi Freelancer karena panggilan jiwa, yaaa seperti menjadi dokter atau polisi mungkin (berlebihan amat ya). Kenyataanya saya menjadi freelancer karena tuntutan memenuhi kebutuhan hidup selama menjadi mahasiswa S1.

Freelancer sebenarnya istilah bagi orang yang bekerja dengan waktu, tempat, dan tenaga yang fleksibel, maksudnya adalah tidak terikat dengan kantor atau perusahaan manapun, tidak ada aturan jam kerja yang ketat, tidak butuh adanya bos ataupun karyawan. Freelancer bekerja secara independen, memprioritaskan kualitas untuk kepuasa klien. Ada banyak bidang keahlian (skill) yang melatarbelakangi sesorang memilih pekerjaan ini. Seperti menjadi penulis, penerjamah, desainer grafis, fotografer, web Programmer dan masih banyak lagi.

Semenjak plathform media sosial menjadi bagian dari rutinitas hidup masyarakat, pekerjaan yang sebelumnya tidak terpikirkan banyak bermuncul, misal youtuber, social media content manager, social media marketing, data scientist Analysis dan lainya. Ini membuktikan bahwa ruang bagi freelancer semakin luas dan kategori keahliannya terus bertambah.

Meski secara teknis bidang keahliannya bermacam-bermacam, menjadi freelancer prinsipnya hampir sama. Mulanya tertarik dengan suatu bidang keahlian tertentu, kemudian intens mempelajarinya dan banyak melakukan eksperimen. Kalau sudah suka dangan bidang tersebut, waktu dan tenaga yg dihabiskan untuk mendalami keahlian tersebutpun tidak akan terasa.

Kepuasan? Tentu saja, setiap karya atau projek pekerjaan yang berhasil diselesaikan menumbuhkan perasaan puas tersendiri. Mencari Uang? Tentunya - kenyataannya banyak yang memilih profesi ini. Tetapi kalau masih pemula, sebaiknya jangan terlalu mengejar materi, karena skill  baru level prematur dan butuh latihan berkali-kali.

Selain skill khusus, secara tidak langsung kamu juga belajar memanage dirimu, mengontrol segala hal yang diri kamu lakukan setiap saat. Berbeda dengan karyawan kantor yang terjadwal, freelancer harus pintar membagi waktunya. Harus bisa memperkirakan setiap durasi segala aktivitasnya. Lengah sedikit, deadline pekerjaan bisa berantakan. Belum lagi kalau ada klien yang minta revisi dadakan. Harus  siap siaga dengan komplain klien selama 24 jam, harus siap mental. Seenak-enaknya sebuah pekerjaan, pasti ada resikonya. 

Jika ditanya bagaimana cara menjadi freelancer? Tidak ada jawaban yang benar-benar tepat. Kembali pada alasan masing-masing orangnya, Penentuan bidang keahlian bermula dari rasa suka, kemudian menjadi hobi yang ditekuni, mengasah keahlian dan perbanyak portofolio. Dari portofolio tersebut, orang-orang akan berdatangan dengan sendirinya untuk memakai jasamu. Itu pengalaman saya pribadi, bisa tepat bisa juga tidak sesuai jika dibandingkan pengalaman freelancer lain. Nah, lebih detailnya, berikut ulasan tentang cara memulai jadi freelancer:

1. Kenali passion dan keahlian yang dimiliki
Apa passion mu? Tidur, nonton drakor atau youtube, makan, bikin story di instagram, jalan-jalan dan seterusnya. Ini beragam  jawaban lucu yang saya dengar ketika iseng nanya ke beberapa teman kuliah. Tidak ada riset khusus terkait mengajukan pertanyaan tersebut, terlontar begitu saja ketika asik ngobrol dan bercanda ria. walaupun sekadar bercanda, jawaban tersebut cukup menyedihkan. Mereka melihat passion sebagai hobi yang mereka gemari. Padahal passion bukan hal yang dilakukan karena sekadar kebiasaan yang disukai saja.
Nah Loh, diatas tadi katanya menjadi freelancer itu bermula dari rasa suka, lalu jadi hobi yang ditekuni, kok gak konsisten gini penulisnya. He he he… sebelum men-judge saya, tuntaskan dulu baca tulisan ini dulu ya.

Sepintas hobi dan passion adalah dua hal yang sama-sama digemari, tapi ada perbedaan diantara keduanya. Menurut Rene Suhardono dalam Buku Passion 2 Performance, hobi dilakukan setiap kali ada waktu luang, sementara passion untuk melakukannya harus meluangkan waktu. Hobi dilakukan sekadar kesenangan saja, tidak ada kebutuhan meningkatkan keterampilan atau keahlian. Passion dilakukan untuk meningkatkan produktifitas, biasanya disalurkan dalam bentuk karya dan kreasi. Jadi meski keduanya bermula dari rasa suka terhadap sebuah tindakan, setiap passion bisa dikatakan sebagai hobi, sedangkan tidak semua hobi bisa dikatakan menjadi passion.

Nah, sekarang sudah tahu bedanya hobi dan passion kan? Semoga ketika ditanyai apa passion mu?, kamu tidak menjawab asal seperti teman-teman saya tadi.

Sebelum terjun ke dunai freelancer, sebaiknya kenali passion yang hendak di asah. Passion tidak muncul begitu saja, bukan bawaan sejak lahir dan tidak diturunkan dari gen orang tua juga. Memang beberapa tokoh publik memiliki kepiawaian di profesi yang sama dengan orang tuanya, tapi sebenarnya mereka juga berlatih dan mengasah keahliannya. Bahkan orang yang dikatakan berbakat setiap hari harus berlatih untuk mencapai target dan impiannya.

Setelah berlatih dan terus berlatih, lambat laun terbentuklah skill yang sekaligus menjadi passion. Skill yang menjual menjadi modal utama bagi freelancer. Kebanyakan freelancer menggeluti profesi berdasarkan skill dibidang kreatif, semisal fotografi, desain grafis, ilustrasi, penulis dll. Bagi yang tidak memiliki minat di bidang kreatif, masih banyak bidang laiinya seperti administratif, manajemen, marketing dll. Hanya saja yang populer di masyarakat sekarang freelancer yang berkaitan dengan bidang seni kreatif.


2. Membuat Portofolio (Berinvestasi melalui Karya)
Tidak masalah jika proses mengasah passion menghabiskan waktu lama, karena suatu saat akan ada benefit dari karya-karya yang sudah kamu buat. Karya-karya hasil berlatih atau meningkatkan skill tadi bisa dikumpulkan menjadi portofolio.

Semakin banyak karya yang sudah dibuat, semakin leluasa juga kamu memilih mana karya yang mau dijadikan portofolio, dan mana yang tidak perlu. kok dipilih, kenapa tidak dimasukan aja semuanya ke dalam portofolio? Alasannya karena tidak semua karya memenuhi segmen pasar. setiap freelancer memiliki standar kelayakan masing-masing terhadap karya yang dijadikan portofolio, menyesuaikan klien yang hendak ditarget juga.

Semisal di bidang yang saya geluti itu desain grafis, secara spesifik desain grafis memiliki kategori yang banyak, mulai dari desain kemasan, layout buku/majalah, ilustrasi, logo branding, dan yang terbaru sekarang adalah desain UI (User Interfice) pada situs web dan aplikasi smartphone. Yang saya sebutkan tadi hanya kategori yang pernah saya geluti saja, Masih banyak lagi cabang-cabang desain grafis sebenarnya. Jadi tidak semua karya yang saya buat saya jadikan portofolio, masing-masing cabang desain grafis tadi memiliki segmen pasarnnya masing-masing.

Ketika keahlian sudah ada, perkenalkan karya-karya hasil latihan tadi ke teman-temanmu. Tidak harus secara terang-terangan seperti orang promosi jualan barang di online shop, tidak perlu spesifik menyebutkan harga juga. Cukup unggah saja secara berkala karya-karya tadi di akun media sosial. Jika bisa konsisten, otomatis sosial media kita akan menjadi portofolio juga.

Kalau pun berkaitan dengan tulisan, posting tulisan-tulisan di blog pribadi, lalu share link-nya dimedia sosial, atau dengan mengirim tulisan ke media-media mainstream juga bisa, siapa tahu bisa terbit, lumayan ada honornya. Yang terpenting terpublikasi dahulu. Kalaupun dapat komentar positif atau negatif, jangan terlalu baper. Itu karya kamu sendiri. Mau jelek atau bagus, tetap optimis dan apresiasi kerja keras kita. Dari pada tidak menghasilkan karya sama sekali.

3. Memperluas Jaringan dan Bergabung dengan Komunitas
Ketika teman-teman sekitar sudah tahu keahlian kamu, mereka yang akan menjadi klien pertama. Karena atas dasar pertemana, kamu faham resikonya bukan. Seperti permintaan yang bermacam-macam, minta ini itu, dan ending-nya minta gratisan, ini hal yang paling tidak mengenakan. Mau bagaimana lagi, namanya juga masih awal. Masa-masa seperti demikian hampir dialami semua orang yang berkecimpung di freelance

Lalu apa solusinya? 
Ya tetap berkarya saja, tingkatkan skill terus menerus. Jika karya kamu memuaskan, teman-teman yang pernah jadi klien gratis kamu tadi, suatu saat akan memperkenalkan karyamu ke teman, kerabat, pacar bahkan mantannya. Nah, feedback dari teman baru kelihatan, jaringan klien-klien baru muncul. Jika kualitas karya kamu memuaskan, nantinya banyak yang tertarik juga.

Selanjutnya, supaya karya kamu semakin banyak dikenal orang, bergabunglah dengan komunitas. Tidak perlu bergabung ke banyak komunitas, menurut saya idealnya 2 saja cukup. untuk komunitas yang pertama, pilihlah komunitas yang linear dengan passion, tidak harus komunitas besar. bisa secara offline maupun online. Fungsinya tentu saja untuk sharing atau konsultasi terkait hasil kerja kamu tadi.

Adapun komunitas yang kedua, cari yang tidak linear tidak sebidang dengan keahlian mu. Kenapa demikian? Mau sefanatik apapun kamu terhadap passion, suatu saat pasti mengalami masa titik terjenuh, It’s normal. Semua orang pernah mengalaminya. Nah, disinilah komunitas yang kedua berguna.

Selain megobati kejenuhan, kalau soal jaringan dan kenalan sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Asal kamu aktif dan sering jalin komunikasi dengan anggota lainnya, eksistensi kamu bakal semakin diakui. Eksistensi disini bukan soal kehadiran fisik tubuh saja loh, melainkan kontribusi yang bisa diberikan ke komunitas. Bisa berupa keahlian yang kamu miliki tadi.

Ingat! freelance bukan soal materi saja. Daripada karya yang dipesan klien, Karya yang dibikin secara cuma-cuma untuk kebutuhan bersama, - misal untuk kebutuhan komunitas, fell apresiasinya lebih ngena. Yang kayak gini ihklash ngerjainnya, yang penting bermanfaat. Tidak perlu mikir apa yang kamu dapatkan nanti, karena dalam komunitas susah senang dinikmatin bersama.

Kalau masih bingung apa benefit-nya bagi freelacer? Bukankah freelancer juga harus memenuhi kebutuhan hidupnya? Tidak perlu khawatir, asal kamu jaga kualitas karya dan terus meng-upgrade skill, yakin aja deh klien nantinya akan terus memakai jasa kamu. Apalagi kalau kamu selama di komunitas kerjanya beres dan benar, teman-teman komunitas suasu saat menjadi klien, atau bahkan ikut promosiin jasa kamu.

Kalau sungguh niat jadi masuk di dunia freelance, Ketiga poin diatas sebenarnya sudah cukup, tapi ada baiknya juga memperkaya referensi dari artikel situs lain mengenai cara menjadi freelance. Yang saya tuliskan  murni pengalaman pribadi. Dulunya saya juga tidak menyangka bisa bertahan hidup dengan bisnis ini. Mulai dari kebutuhan pokok, biaya kuliah hingga meng-upgrade device  bisa terpenuhi tanpa biaya orang tua. Susah senangnya tentu ada, but this is reality of life, nothing is free, everything needs a struggle. Bagaimanapun juga kalau sudah kerja sesuai passion yang dimiliki, rasanya enjoy enjoy saja, Karena it's not all about the money guys.

Untuk menutup tulisan ini, meminjam kata-kata senior saya di komunitas,
“Memulai itu butuh keberanian, dan merawat itu butuh ketelatenan”
Jadi yang penting mulai aja dulu. Jangan keseringan menunda dan berwacana saja.


0 komentar:

Posting Komentar

auvha-logo-vsg

Say hello to Danil,
our director art